Harry Potter - Golden Snitch

Google+ Badge

Minggu, 11 November 2012

Paes Ageng


-->

Riasan Jogja Paes Ageng, menurut pakem dasarnya riasan Jogja Paes Ageng itu dasarnya dasarnya adalah dahi dan sanggul. Bagian mata, pipi, dan bibir, adalah hasil modifikasi. Pada bagian mata sebenarnya bukan berupa polesan make up mengingat zaman dahulu make up belum ada. Bagian wajah diberi bedak kemudian di sekitar area mata disisakan tanpa bedak dengan mengikuti bentuk mata sehingga tampaklah kulit asli dari pengantin tersebut. Nah, semakin gelap kulit sang pengantin, makin eksotiklah penampilan si pengantin. Pakem yang kedua adalah bagian dahi yang biasa dihitamkan. Bentuknya pun berbeda dengan pengantin Solo karena lebih runcing dan ramping. Bibir sang pengantin berwarna merah karena diolesi daun sirih. “Memang kalau menuruti pakem lebih rumit tapi kemudian ketika kosmetika sudah ada maka terjadilah modifikasi itu dan tidak serumit zaman dulu

Terciptanya busana pengantin ini diperkirakan setelah adanya Perjanjian Giyanti. Waktu itu, seluruh gaya busana dari Keraton Surakarta Hadiningrat dibawa ke Keraton Yogyakarta Hadiningrat sebagai hadiah dari Susuhan Paku Buwono II kepada putranya, Pangeran Mangkubumi.

Hadiah ini merupakan wujud penghargaan kepada Pangeran Mangkubumi yang telah menang perang dengan Belanda dan berhasil memperoleh tanah kembali (saat ini menjadi Yogyakarta). Pangeran Mangkubumi pun akhirnya diangkat menjadi Raja Yogyakarta pertama dengan gelar Sri Sultan HB I. Setelah peristiwa itu, Keraton Surakarta Hadiningrat membuat desain (gagrak) baru dengan pola bergaya barat. Biasanya busana baru ini kita kenal dengan nama beskap, langenharjan, baju teni.

Pada zaman dulu, busana dan tata rias paes ageng Keraton Yogyakarta dan Solo hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja. Untuk di Yogyakarta, baru pada masa Sultan HB IX atau tahun 1940, masyarakat umum diijinkan memakai busana ini dalam upacara pernikahan. Sampai saat ini paes ageng sudah digunakan masyarakat Jawa pada umumnya saat upacara pernikahan. Paes ageng ini memiliki makna filosofi sendiri yang terkandung dalam setiap detail wajah, busana, dan aksesorinya.

Paes ageng memiliki makna sakral. Sebelum merias pengantin wanita, perias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari petaka. Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik, molek, dan bersinar.

Artikel Terkait :

1 komentar:

uneng sunarti mengatakan...

Terimakasih banyak dengan banyaknya artikel tentang hantaran dan contohnya, sehingga saya mendapat banyak wawasan untuk dapat membuat hantaran hajatan.

Posting Komentar

Banner Link Sahabat